Home Berita Populer Polantas Menyapa: Cara Baru Membangun Ketertiban Lalu Lintas

Polantas Menyapa: Cara Baru Membangun Ketertiban Lalu Lintas

by Geralda Talitha
0 comment
Polantas Menyapa dan Melayani

Ceksurvey.com – Di banyak negara, urusan keselamatan lalu lintas sering identik dengan teknologi. Kamera tilang elektronik, pemantauan digital, hingga kecerdasan buatan dipakai untuk menertibkan jalan raya. Indonesia tentu tidak menutup mata pada kemajuan itu. Namun, ada satu pendekatan yang justru ditempatkan sebagai fondasi utama: membangun kepercayaan antara polisi dan masyarakat.

Gagasan inilah yang menjadi ruh Program Polantas Menyapa dan Melayani 2026. Di bawah kepemimpinan Kakorlantas Polri Irjen Pol Drs. Agus Suryonugroho, S.H., M.Hum., keselamatan lalu lintas dipandang bukan semata soal rambu, sanksi, atau pelanggaran. Lebih dari itu, keselamatan lahir dari hubungan yang sehat dan saling percaya di ruang publik bernama jalan raya.

Dalam program ini, kehadiran polisi lalu lintas tidak lagi didefinisikan sebagai simbol kekuasaan yang menakutkan. Polantas hadir sebagai bagian dari keseharian masyarakat—menyapa, mendengar keluhan, membantu, dan berdialog. Jalan raya pun tidak hanya menjadi ruang mobilitas, tapi juga ruang interaksi sosial.

Pendekatan ini sebenarnya bukan hal baru di dunia. Banyak negara telah menerapkan konsep community policing. Jepang dengan sistem koban, Inggris melalui neighborhood policing, hingga Kanada yang mengedepankan penegakan hukum berbasis kepercayaan publik. Namun Indonesia memilih tidak menyalinnya mentah-mentah.

banner

Karakter masyarakat, budaya, dan kompleksitas lalu lintas Indonesia menuntut pendekatan yang lebih membumi. Karena itu, kata “menyapa” dipilih sebagai simbol utama. Terdengar sederhana, tetapi menyimpan makna besar. Sapaan adalah jembatan. Ia memecah jarak psikologis dan membuka ruang dialog yang selama ini sering tertutup oleh seragam dan kewenangan.

Seperti yang disampaikan Kakorlantas Polri, keselamatan tidak akan tumbuh dari rasa takut. Ia justru berkembang ketika masyarakat merasa dihargai dan diperlakukan secara manusiawi. Inilah perubahan besar dalam cara pandang: dari pendekatan yang kaku menuju pendekatan relasional.

Prinsip ini sejalan dengan konsep procedural justice, di mana kepatuhan muncul bukan karena ancaman hukuman, tetapi karena rasa adil dan kepercayaan. Di jalan raya—ruang yang sering penuh emosi—pendekatan humanis justru menjadi kunci agar pesan keselamatan lebih mudah diterima.

Salah satu langkah konkret program ini adalah menggandeng komunitas pengemudi ojek online. Para pengemudi ojol adalah pengguna jalan paling aktif. Mereka memahami medan, titik rawan kecelakaan, dan dinamika lalu lintas sehari-hari. Karena itu, mereka tidak diposisikan sebagai objek pengawasan, melainkan mitra keselamatan.

Lewat dialog terbuka dan road show di berbagai daerah, Polantas mengajak komunitas ojol terlibat langsung. Pesannya jelas: keselamatan adalah tanggung jawab bersama. Ketika pengemudi merasa dilibatkan, muncul rasa memiliki dan kepedulian untuk saling menjaga di jalan.

Pendekatan kolaboratif ini mencerminkan semangat gotong royong khas Indonesia. Keamanan dan keselamatan tidak dimonopoli negara, melainkan dibangun bersama. Masukan dari masyarakat menjadi bagian penting dalam evaluasi kebijakan.

Pada akhirnya, Polantas Menyapa dan Melayani 2026 ingin mengubah cara kita memandang jalan raya. Bukan lagi ruang yang penuh ketegangan, melainkan ruang percaya. Dari sapaan sederhana hari ini, tumbuh budaya tertib dan aman untuk masa depan.Po

You may also like

Leave a Comment